-->

..:: seize the day ::..

May 16, 2006

1: 40,000

Filed under: my opinion

Semalam secara sekilas saya sempat nonton Republik BBM di TV. Mereka ngebahas masalah kesehatan, harga obat yang mahal dan ketersediaan dokter. Saya jadi teringat bahwa per 1 Mei 2006 kemarin adik saya yang satu-satunya wanita mulai menjalankan tugas sebagai dokter puskesmas di daerah terpencil di Tana Toraja. Sebenarnya adik saya ini sudah lulus dokter dari Universitas Hasanuddin pada Desember 2004. Kemudian dia kembali ke Jakarta, rencananya mau ngedaftar pendidikan dokter spesialis di UI. Sayangnya dia gagal test wawancara, yang ketika saya tanyakan ke dia sepertinya intinya adalah dia bisa bayar berapa? Ha? Karena dia masih sangat lugu dia jelaskan bahwa ayah saya seorang pensiunan, dan mungkin dia bisa minta bantuan biaya pendidikan spesialis ke saya. Entah bagaimana pertimbangannya, singkat cerita tim penilai tidak meluluskan dia.

Kemudian di ikut ujian lagi Januari 2006 kemarin. Dan untuk tahap ujian tertulis sudah lulus juga, tinggal menunggu panggilan wawancara. Tetapi kemudian dia berubah pikiran untuk ikut PTT dulu. 

Walaupun tidak seberuntung anak-anak orang kaya atau anak pejabat, kalau mengenai pendidikan saya harus patut bersyukur karena biaya pendidikan saya terhitung murah dan sometimes I feel its free! SD sampai SMA saya di sekolah negeri, kemudian masuk UI lewat PMDK dan S2 juga di UI dan dibayarin. Sebenarnya saya sudah lulus dan dapat korespondensi profesor dari Illinois-Campaign untuk S2 tapi entah kenapa pada tahap akhir beasiswa saya dialihkan ke dalam negeri.

Saya jadi heran kenapa biaya sekolah dan pendidikan tinggi menjadi mahal sekali saat ini?? Kalau dikaitkan dengan minimnya dokter yang katanya 1:40.000 penduduk, harusnya hal ini tidak usah ditanyakan. Menjadi seorang dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya pendidikan untuk menciptakan seorang dokter termasuk yang termahal jadi harusnya pemerintah malah mensubsidi biaya pendidikan itu kalau ingin rasio itu menjadi rasional.

Belum lagi tidak ada sarjana yang diwajibkan untuk mengabdi terlebih dahulu di daerah-daerah seperti dokter. Kita yang biasa tinggal di kota besar akan sangat terperanjat dan tidak betah kalau diharuskan tinggal di daerah terpencil. Jangan membandingkan kota di Sulawesi atau Kalimantan dengan kota di Jawa. Infrastruktur dan taraf hidupnya jauh berbeda.

Jadi ketika adik saya kemudian mengajukan diri untuk menjadi PTT dokter Puskesmas di daerah terpecil di Toraja, saya sebenarnya kaget dan salut juga. Sekaligus sebenarnya sedih juga karena baru 1 tahun ini kita sama-sama lagi di Jakarta setelah 6 tahun dia harus sekolah di Makassar. 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://medwinz.blogsome.com/2006/05/16/1-40000/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.