Akhir Mei Delapan Tahun yang Lalu
Mei tahun 1998, kebetulan saya ada di semester 2 Pasca Sarjana UI. Saya mencoba mengingat-ingat kembali suasana di sekitar pecahnya kerusuhan. Dosen-dosen dan teman-teman kuliah sering sekali menyinggung masalah-masalah terjun bebasnya nilai tukar, konstelasi politik dan resesi di sela-sela perkuliahan.
Pada saat hari pertama pecahnya kerusuhan, tanggal 20 Mei 1998 hari Kamis, saya datang ke kantor di Arthaloka agak siang sekitar jam 10.00 karena harus menyelesaikan tugas yang pada hari itu harus dikumpul di Salemba. Teman-teman di kantor ada yang sudah bersiap-siap untuk pulang lagi karena ada isu bahwa orang-orang sudah mulai membakar di Kota. Kantor akhirnya memang ditutup, tapi saya tidak pulang, saya ke Salemba. Mengingat harus mengumpulkan tugas kuliah. Sampai di Salemba sudah banyak mahasiswa yang berkumpul di parkiran lengkap dengan jaket kuningnya.
Saya langsung ke sekretariat Fasilkom dan menyerahkan tugas, rencananya mau langsung pulang. Tapi kelihatannya sudah tidak mungkin. Saya ingat ada Antoni Morris, anak LintasArtha yang seangkatan dengan saya. Dia salah satu aktivis kita. Saya juga ketemu Sularso, anak tugas belajar dari Semarang. Yang mengagetkan ada Seno adik kelas saya di Mesin UI. Rupanya dia dan teman-teman alumni UI saat itu sedang kumpul di Salemba.
Tidak lama kemudian suara sirene meraung-raung dari segala penjuru, Marinir mengamankan jalan Matraman. Saya masih sempat bercanda dengan almarhum Dono Warkop yang waktu itu juga turun ke jalan bersama-sama dengan Iluni. Suasana tegang. Di kejauhan tampak kepulan asap tebal yang berasal dari mobil yang dibakar masa di jalan Matraman. Saya juga sempat melihat mayat-mayat diturunkan dari mobil di depan kamar mayat RSCM. Informasi simpang siur dan tidak jelas. Transportasi masal seperti kereta jabotabek dan bis kota lumpuh total. Untungnya hubungan GSM tidak putus.
Akhirnya saya telpon ke rumah, mengabarkan bahwa saya mungkin tidak pulang malam ini dan berencana menginap di kampus saja. Seno mengajak saya untuk pulang jalan kaki. Tapi setelah saya pikir-pikir jalan kaki ke Cilandak dari Salemba dalam suasana seperti ini sepertinya bukan pilihan yang baik. Saya memilih untuk tinggal dan besok pagi baru pulang.
Pada saat duduk-duduk di sekitar kamar mayat itu saya bertemu lagi dengan Larso. Dia menawarkan saya untuk tinggal di tempat kostnya malam itu. Akhirnya saya terima dan dengan menembus lorong-lorong RSCM saya menyeberang ke jalan Borobudur ke tempat kost dia.
Esok pagi sekitar jam 08.00 sudah ada kendaraan yang jalan. Saya naik bis ke Blok M dan selanjutnya ke Pondok Labu. Saya melihat reruntuhan Pasar Cipete yang hangus dibakar masa sambil membayangkan kengerian yang terjadi kemarin. Semua orang di dalam bis terdiam dan menampakkan kekhawatiran seolah-olah bertanya dan tidak percaya bahwa yang melakukan kerusuhan ini adalah saudaranya sendiri bangsa Indonesia yang terkenal ramah itu.
Dua hari kemudian, Soeharto berhenti dari jabatan presiden. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh rakyat Indonesia. Rakyat bersuka cita menyambutnya. Tetapi ternyata perjuangan belum selesai di situ. Kini 8 tahun kemudian kita masih saja terpuruk, kelaparan dimana-mana, harga-harga melambung tinggi. Apakah kerusuhan akan terulang kembali?





