-->

..:: seize the day ::..

May 15, 2008

Asterisk (Bagian 1)

Filed under: IT stuff

Tahun 2007 lalu saya sempat ngebangun VOIP system dengan Asterisk untuk sebuah instansi di Jakarta. VOIP tersebut menghubungkan 2 lokasi di Jakarta, dan masing-masing 1 lokasi di Padang dan di Banda Aceh. Ada beberapa pengalaman menarik yang ingin saya share yang mungkin bisa membantu teman-teman yang ingin mengimplementasikan Asterisk.

Sudah banyak dokumen dan wiki di internet yang bisa membantu anda untuk konfigurasi Asterisk dengan baik, bahkan salah satu teman kita, Onno WP,  sering keliling Indonesia bahkan mancanegara hanya untuk "mengiklankan" penggunaan Asterisk. Tulisan ini hanya sebagai pelengkap saja, kalau lebih detailnya silakan lihat ke site yang khusus membahas Asterisk (he..he..he….saya jadi inget ceritanya Yono dan Anto waktu jemput Onno di London waktu Onno liburan sekolah dari Canada, itu knalpot sampe copot saking beratnya anda bertiga he…he..he… udah berapa tahun ya itu peristiwa, we’re all getting old bro. Bos Yono kayaknya udah anteng ngejagain keamanan negara sekarang, Bos Anto sekarang udah jadi guardiannya AstroTV ngejagain Measat biar nggak dihack sama kita-kita wakakakakakkk. Sorry To’ just kiddin’. Saya terus aja ngoprek Linux)……Pak CA dan Bang Edmon saya jangan dikenain pasal ITE ya……..

Ok cukup untuk nostalgianya. Lebih baik saya cerita aja pengalaman praktis dan cerita-cerita implementasinya.

Untuk implemetensi Asterisk saya menggunakan Dell server PESC1430, Digium card TDM04B, PSTN line, Musitel 160 GSM modem dan Grandstream GXP2000 sip phone. Implementasinya sendiri cukup complicated tapi sebenarnya nggak susah koq. Jadi nanti di setiap server ada dua ip, satu buah masuk dalam vlan data dan yang lainnya untuk vlan voice. Terus semua percakapan akan terekam di disk, sebenarnya ini fasilitas dari Asterisk yang dengan cron secara periodik kita simpan ke sebuah direktori.

Sistemnya saya buat fault-tolerant dalam arti satu server sebagai server Asterisk nominal dan yang lain sebagai stand-by back-up yang akan mengambil alih semua service di server nominal jika server tersebut mati. Untuk hal ini saya menggunakan vrrpd yang cukup sederhana untuk diimplementasikan.

Kenapa pakai Asterisk? Sistem ini ditempatkan ke dalam sebuah crisis center yang harus menerima dan juga memberikan panggilan telpon. Jadi kalau pakai telepon PSTN tentunya akan banyak biaya yang dikeluarkan untuk koneksi PSTN antar crisis center. Tapi kita nggak ngebuat koneksi dari Asterisk server ke SIP gateway untuk koneksi dengan menggunakan internet ke PSTN, soalnya saya belum yakin kalau hal ini legal di Indonesia, walaupun bisa saja kita konek ke SIP gateway di luar negeri yang gratisan. ‘Ntar kita kena pasal ITE lagi. Jadi kalau dari sistem ini mau melakukan panggilan ke GSM, CDMA atau PSTN tetap aja harus lewat saluran yang legal, lewat PSTN atau lewat GSM.

PABX server / Asterisk server
Untuk PABX server saya menggunakan Dell PESC1430, lebih dari cukup speknya, cuman berat banget nih server nggak tahu yang berat apanya he..he…he…… konfigurasinya:

  • Pentium D processor
  • RAM 512 mb
  • 2 ethernet card 10/100
  • 80 GB SAS harddisk
  • 3 digium card TDM04B
                                                      

Setiap digium card memiliki 4 FXO port untuk koneksi ke line telpon PSTN atau ke FXS port di modem GSM.

Pada kedua server ini saya install Centos 4.2. Versinya agak tua memang. Tapi kita nge-remaster CDnya dan dipaketin sama Asterisk dan vrrpd sekitar bulan Februari 2007. Walaupun proses instalasinya baru mulai di bulan Juni 2007. Foto diatas adalah untuk Aceh site yang kita kerjakan sekitar bulan Oktober 2007. Tadinya mau pakai openSUSE tapi usernya nggak biasa pakai, jadi kita akomodir keinginan user untuk pakai Centos.

IP Phone (tepatnya mungkin SIP phone)

Untuk pesawat telepon saya menggunakan Grandstream GXP2000, bukan merek yang terkenal dan jelas kualitasnya agak rendah dibawah merek-merek lain yang pernah saya gunakan. Kalau dipakai agak lama agak panas di telinga. Yang jelas harganya lebih murah. Bisa dikonfigurasi lewat internal webservernya dan mendukung cukup banyak standar codec, cukup lah untuk proyek gratisan he..he..he.. Instalasinya ke jaringan nggak susah koq. Dengan port RJ45 yang mendukung ethernet 100 MB/s, dari pabriknya di set sebagai DHCP. Jadi musti pasang DHCP server dulu untuk ngambil ip address, terus buka webconsole-nya lewat terminal. Terus ganti dengan IP yang kita inginkan.

                                                    
 

PSTN line

Karena menggunakan 3 Digium card, berarti ada 3x4 atau 12 line yang bisa digunakan dalam konfigurasi ini. Jadi kalau dipakai semua berarti harus disediakan 12 telepon line. Kita bisa minta no hunting ke penyedia jasa untuk 12 line ini. Tapi kalau gak punya 12 line ya, minimal ada satu line PSTN. Kalau untuk 1 line PSTN mungkin harus dicari juga tipe Digium yang hanya support 1 line biar nggak boros. Maklum TDM04B yang digunakan ini harganya cukup mahal sekitar USD450-500 perbuahnya.

                                                    

 

GSM Modem

GSM modem di sini sebenarnya sebagai backup kalau-kalau line PSTN mati, jadi desain kita dilengkapi dengan 4 buah modem GSM Musitel yang memiliki masing-masing satu port FXO dan FXS. Dari port FXS Musitel akan dihubungkan ke port FXO digium (no 8 - 12). O iya semua hubungan dari port FXO digium dan port FXO dan FXS musitel menggunakan RJ12.

                                                    
 

Coupler, konektor, RJ12 cable

Coupler digunakan untuk memparalel PSTN line ke kedua server.

                     

Pada tulisan mendatang saya akan jelaskan proses instalasi dan konfigurasi Centos dan Asterisk.