Manusia Bugis
Beberapa minggu yang lalu saat mampir di sebuah toko buku, saya membeli sebuah buku berjudul "Manusia Bugis" karangan Christian Pelras.
Sebagai seorang yang berasal dari suku Duri sebuah suku kecil di Sulawesi Selatan yang katanya masuk dalam komunitas Ma’sengrengpulu saya merasa perlu untuk mengetahui asal-usul suku saya itu. Dan walaupun sedikit, setidaknya itu saya dapatkan dari bukunya Pelras ini.
Suku Duri ini memang cukup marginal di Sulawesi Selatan. Dari sisi bahasa dan dialek, bahasa Duri lebih mirip dengan bahasa Toraja dan Luwu’. Secara geografis pun suku Duri ini menempati daerah di perbatasan Kabupaten Enrekang dengan Toraja. Bahkan keluarga kami sejak dulu menempati daerah Toraja (keluarga kami menetap di Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja dan Rembon, sebuah kota kecamatan sekitar 11 km dari Makale). Secara kebudayaan, di daerah Duri pun ditemukan peninggalan pemakaman di gunung sangat mirip dengan yang dimiliki orang Toraja saat ini. Tetapi karena suku ini memeluk agama Islam maka seperti suku-suku lain di Sulawesi Selatan (Bugis, Mandar, Makassar) yang memeluk Islam, maka jika mereka keluar dari Sulawesi Selatan mereka akan mengaku sebagai orang Bugis.
Dari buku ini pun saya baru mengetahui bahwa cerita rakyat/epos La Galigo ternyata merupakan karya yang menurut para ahli jauh mengungguli Mahabarata baik dari segi sastra maupun kompleksitas dan panjangnya. Pelras juga mengkaji proses masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan, yang ternyata dilakukan oleh 3 orang Minangkabau (yang tinggal di Aceh tetapi bekerja untuk Sultan Johor) yang dipimpin oleh Dato’ Ribandang pada awal abad ke-17. Walaupun sebelumnya telah ada komunitas di Sulawesi Selatan yang menganut Islam, tetapi Islam baru benar-benar berkembang di Sulawesi Selatan setelah Dato’ Ribandang meng-Islamkan kerajaan Luwu’ dan Makassar. Setelah menganut Islam, orang Bugis mengasimilasi ajaran-ajaran Islam ke dalam kebudayaan mereka. Bahkan penjajah Belanda mengatakan bahwa orang Bugis, bersama-sama dengan orang Aceh, Minang dan Banjar merupakan suku-suku yang paling kuat identitas ke-Islamannya di Nusantara.
Yang tidak kalah pentingnya adalah kajiannya mengenai penyebaran orang Bugis di seluruh Asia Tenggara (bukan hanya Indonesia). Orang Bugis ternyata adalah suku yang pertama kali membuka Singapura, keturunan mereka juga menjadi raja di semenanjung Melayu, menetap di Riau sampai Mindanao.
Menurut Pelras kemampuan orang Bugis untuk tinggal di berbagai tempat didasari oleh mentalitas empat sifat yang dalam bahasa Bugis disebut sulappa eppa (segi empat) yaitu :
- to-warani, yang artinya (menjadi) orang berani
- to-acca, yang artinya (menjadi) orang pandai
- to-sugi, yang artinya (menjadi) orang kaya dengan sappa dalle hallala (mencari kekayaan melalui cara yang halal)
- to-panrita’, yang artinya (menjadi) orang yang mengerti agama
Pada halaman 397 Pelras menulis " Sepanjang sejarah sosiokultural orang Bugis, sejumlah ciri khas tertentu dengan sangat menakjubkan tetap melekat dalam diri mereka sejak dahulu kala sampai sekarang. Salah satu di antaranya adalah kecenderungan luar biasa mereka untuk selalu mencari peluang ekonomi yang lebih baik di mana pun dan kapan pun itu. Selain itu, yang sangat berkaitan erat dengan itu adalah daya adaptasi terhadap keadaan yang dihadapi sangat mengagumkan".
Buku ini sangat unik dan menarik untuk dibaca bukan hanya untuk orang Bugis tapi juga untuk orang di luar Bugis yang ingin mengenal lebih jauh kayanya kebudayaan Indonesia. Sebagai suatu karya yang membutuhkan waktu penelitian 40 tahun dan menghabiskan 2/3 masa hidupnya (Pelras lahir tahun 1934), buku Pelras ini dapat dikatakan sebagai Masterpiece.





